- “The next croissant” lebih berarti peran di kafe, bukan roti yang sama.
- Salt bread menang di tekstur kontras dan mudah terlihat bagus di video.
- Secara teknik, salt bread berbeda dari croissant, jadi ekspektasi harus diatur.
- Untuk kafe Indonesia, kunci suksesnya ada di timing, display, dan kemasan.
- Lonjakan pencarian salt bread tinggi, termasuk keyword “terdekat” yang berniat beli.
Salt bread sering disebut “the next croissant” karena fungsinya mirip di kultur kafe: buttery, enak dipasangkan dengan kopi, dan punya momen visual yang gampang menarik perhatian di konten pendek. Sebutan ini bukan pengumuman bahwa croissant kalah. Ini lebih seperti label tren untuk produk yang sedang naik cepat.

Di Indonesia, pola ini biasanya cepat terasa. Begitu konten ramai, orang mulai mencari, lalu kafe mulai uji coba. Pada tahap ini, yang penting bukan ikut cepat, tetapi ikut rapi. Salt bread punya peluang besar jika kualitasnya konsisten dan pengalaman makannya nyaman.
Baca Juga
Salt bread artinya apa ? ini beda salt bread dan roti biasa
Soft Inside, Crunchy Outside: Perdebatan Tekstur Ideal Salt Bread di Sosial Media
Artikel ini membahas arti sebutan tersebut, alasan perbandingannya, perbedaan salt bread dan croissant, sinyal dari pencarian Google, dan langkah praktis agar menu tetap masuk operasional harian. Bahasanya dibuat sederhana supaya bisa dipakai untuk diskusi menu, produksi, dan front-of-house.

Apa maksud “the next croissant”
Istilah “the next croissant” biasanya dipakai media dan komunitas untuk menandai satu produk yang mulai mengambil perhatian besar di rak pastry. Produk ini umumnya punya tiga ciri. Rasanya familiar dan mudah disukai. Cocok dipasangkan dengan kopi. Dan punya tampilan yang mudah dipahami dalam beberapa detik.
Croissant sudah lama mengisi peran itu. Ia sering jadi patokan pastry di banyak kafe. Maka ketika salt bread muncul dan mulai diburu dengan cara yang mirip, orang membandingkan. Bukan karena bentuknya sama, tetapi karena posisinya di etalase terasa mirip.
Kenapa perbandingan ini muncul
1) Ada momen tekstur yang gampang terlihat
Salt bread biasanya menawarkan kontras yang jelas. Bagian dalamnya lembut. Bagian bawahnya bisa terasa sangat renyah karena butter meleleh dan “menggoreng” dasar roti saat dipanggang. Saat digigit, ada rasa gurih-asin dan aroma butter yang langsung terasa. Di kamera, efek ini mudah ditangkap.
2) Rasanya aman, tapi tidak membosankan
Rasa utamanya sederhana: roti, butter, dan garam. Ini penting untuk kafe karena banyak pelanggan ingin pastry yang tidak terlalu manis. Untuk pairing kopi, rasa gurih sering membuat minuman terasa lebih seimbang.
3) Lebih mudah dijelaskan dibanding konsep laminasi
Bagi banyak orang, croissant identik dengan layer. Itu menarik, tetapi tidak semua orang paham bedanya yang rapi dan yang biasa. Salt bread lebih mudah dijelaskan dalam satu kalimat: roti buttery yang lembut, gurih, dan punya dasar yang renyah. Pelanggan jadi cepat paham apa yang akan didapat.
Sinyal dari pencarian Google Indonesia
Dari data pencarian Indonesia, “croissant” masih lebih besar secara volume rata-rata bulanan, sekitar 60.500 pencarian. “Salt bread” berada di sekitar 12.100 pencarian. Namun yang menarik adalah pertumbuhannya. Dalam tiga bulan terakhir, “salt bread” naik sekitar 83%, dan perubahan year-on-year terlihat sangat tinggi, sekitar 652%. Ini memberi sinyal sederhana: minat salt bread sedang mengalir cepat, walau basisnya masih di bawah croissant.

Keyword “terdekat” juga penting karena biasanya menunjukkan niat membeli, bukan sekadar baca. “Croissant terdekat” berada di sekitar 720 pencarian bulanan, sedangkan “salt bread terdekat” sekitar 320. Tetapi pertumbuhan “salt bread terdekat” terlihat sangat agresif dalam tiga bulan terakhir, sekitar 120%. Ada juga variasi penulisan “saltbread terdekat” yang volumenya lebih kecil (sekitar 40), tetapi lonjakannya sangat tinggi dalam tiga bulan terakhir (sekitar 420%). Untuk kafe, ini berarti satu hal praktis: orang bukan hanya penasaran, tetapi mulai mencari lokasi untuk beli.
Jika kafe ingin menangkap demand ini, fokusnya bukan hanya membuat roti. Fokusnya juga membuat orang mudah menemukan lokasi. Pastikan nama menu konsisten, foto produk jelas, dan informasi jam buka serta lokasi mudah diakses.
Bedanya salt bread dan croissant
Dua produk ini berbeda dari sisi adonan dan teknik. Croissant adalah pastry berlapis yang mengandalkan proses lipat butter dan adonan berulang untuk membentuk lapisan. Targetnya tekstur renyah berlapis dan bagian dalam yang berongga.
Salt bread lebih dekat ke roti lembut yang kaya butter. Fokusnya bukan banyaknya layer, tetapi sensasi buttery dan kontras dasar yang renyah. Karena itu, standar kualitasnya juga berbeda. Jika pelanggan berharap “croissant versi asin” lalu yang datang ternyata roti lembut, ada risiko kecewa. Jadi penamaan menu dan deskripsi perlu jelas.
Apa yang berubah di operasional kafe
Tren pastry bukan hanya soal resep. Ia soal operasional. Salt bread yang enak harus tetap enak di etalase, dan tetap rapi saat dibawa pulang. Bagian renyahnya bisa turun cepat jika terkena uap, misalnya karena dikemas terlalu rapat atau dimasukkan ke box saat masih terlalu panas.
Dari sisi harga, salt bread terlihat sederhana, sehingga banyak pelanggan punya patokan harga yang lebih rendah. Padahal butter tetap komponen biaya yang besar. Jika harga perlu dinaikkan, nilai tambah harus jelas, misalnya ukuran yang pas, rasa butter yang terasa, dan tekstur yang konsisten.
Checklist praktis untuk kafe
- Tentukan momen sajinya: paling enak hangat, atau aman di suhu ruang.
- Uji etalase: cek rasa dan tekstur setelah 30 menit, 60 menit, dan 120 menit.
- Uji kemasan: cek setelah 15–20 menit perjalanan, apakah dasar masih renyah.
- Buat SOP pemanasan: waktu dan suhu harus stabil antar shift.
- Tulis deskripsi menu yang jujur: roti buttery gurih dengan tekstur kontras.
- Latih staf: cara menawarkan pairing kopi secara natural dan tidak memaksa.
Jika bekerja dengan pemasok, minta panduan yang praktis, seperti rekomendasi pemanasan dan batas waktu display. Di tim seperti Below Zero, hal-hal kecil ini biasanya jadi pembeda antara menu yang sekadar dicoba sekali dan menu yang dibeli berulang.
Pengalaman kami di Below Zero
Kami di Below Zero melihat tren roti dan pastry sering bergerak dari konten ke etalase dalam waktu singkat. Pada awalnya, banyak kafe fokus pada tampilan. Lalu baru terasa bahwa yang menentukan keberhasilan adalah konsistensi saat jam sibuk. Below Zero didirikan tahun 1998 di bawah PT. Kencana Anakmas Lestari. Kami spesialis menyediakan fresh dan frozen baked goods, misalnya Croissants, Donut, Puff Pastry, Sandwich, cakes dan lainnya untuk retail wholesale nationwide. Di lapangan, kebutuhan klien biasanya jelas: roti, donat, croissant, pastry, cakes, cookies, brownies, dan muffin harus tetap enak setelah dipanaskan, dan tidak membuat antrean makin panjang. Untuk tren seperti salt bread, kami biasanya menekankan kebiasaan kecil: kapan produk dipanaskan, berapa lama dibiarkan di display, dan bagaimana cara mengemas supaya tidak terjebak uap. Dengan SOP yang rapi, produk sederhana bisa terasa premium. Tanpa SOP, produk yang ramai di feed bisa cepat kehilangan repeat order.
Penutup
Salt bread disebut “the next croissant” karena perannya mirip di budaya kafe: buttery, cocok untuk kopi, dan enak dilihat di kamera. Namun, dua produk ini berbeda, jadi ekspektasi perlu diarahkan sejak awal. Ini membantu pelanggan merasa mendapatkan produk yang sesuai.
Langkah kecil yang bisa mulai hari ini adalah uji tiga hal: waktu display, cara kemas, dan SOP pemanasan. Setelah itu, rapikan deskripsi menu agar mudah dijelaskan dalam satu kalimat. Jika memungkinkan, kuatkan juga visibilitas pencarian lokal karena pertumbuhan keyword “terdekat” menunjukkan niat beli yang nyata.
Jika hasilnya stabil, barulah tambah variasi, misalnya ukuran, topping ringan, atau pairing minuman. Dengan cara ini, tren bisa jadi tambahan penjualan yang sehat tanpa mengganggu menu inti.

