Korea Selatan terus menunjukkan bahwa pastry bukan hanya soal teknik Eropa, tetapi juga soal keberanian menggabungkan tekstur, budaya, dan visual yang kuat. Di awal 2026, Seoul semakin terlihat sebagai laboratorium tren bakery Asia, terutama untuk produk berbasis croissant yang terus berevolusi dalam bentuk hybrid, tekstur baru, dan kombinasi rasa yang berani. Bagi para pelaku bakery dan kafe, yang menarik bukan hanya produk akhirnya, tetapi cara Korea mengemas croissant sebagai pengalaman visual dan sensori yang layak dibagikan di media sosial.
Fenomena ini penting karena croissant telah bergerak jauh dari bentuk klasik sarapan. Di tangan bakery Korea, croissant menjadi medium eksplorasi: bisa dipipihkan, dipres, dipadukan dengan mochi, dibentuk seperti waffle, atau diberi sentuhan rasa lokal yang sebelumnya terasa mustahil. Pola ini memberi pelajaran penting bagi pasar Indonesia. Konsumen modern masih menyukai croissant, tetapi mereka semakin tertarik pada versi yang punya kejutan, baik dari tekstur maupun rasa.
Seoul Makin Kuat sebagai Pusat Tren Pastry
Beberapa laporan tren bakery menyorot Seoul sebagai salah satu kota yang paling aktif melahirkan baked goods viral, dari tissue bread sampai kreasi Korean-French fusion yang bermain di bentuk, visual, dan rasa. Pertumbuhan minat pada pastry juga ditopang budaya ngopi, gift culture, dan kuatnya daya sebar konten pendek di TikTok maupun Instagram. Dalam konteks ini, croissant tetap menjadi fondasi penting karena struktur berlapisnya memberi ruang besar untuk inovasi tanpa kehilangan daya tarik dasar berupa aroma butter dan tekstur flaky.
Yang menarik, tren di Korea tidak sekadar “menambah topping”. Inovasi yang menonjol justru sering muncul dari perubahan struktur makan. Konsumen tidak hanya ingin pastry yang cantik dilihat, tetapi juga punya sensasi gigitan yang berbeda. Itulah sebabnya kombinasi seperti croissant dengan mochi, croissant yang dipres hingga super renyah, atau croissant yang bertemu rasa-rasa lokal menjadi begitu cepat menyebar.
Hybrid Masih Menguasai Pasar
Salah satu benang merah terkuat dari tren croissant Korea adalah dominasi hybrid pastry. Croffle, misalnya, memang bukan produk baru, tetapi di Seoul ia tetap hidup karena terus diberi wajah baru melalui topping, saus, dan pendekatan penyajian. Croffle bekerja karena menggabungkan dua hal yang sangat disukai pasar: bentuk yang familiar seperti waffle dan rasa buttery-flaky khas croissant. Bahkan setelah hype awalnya lewat, produk ini tetap relevan karena sangat fleksibel untuk menu manis maupun gurih.

Selain croffle, pasar Korea juga terus memunculkan turunan croissant lain seperti flat croissant atau crungji, yakni croissant yang dipipihkan lalu dipanggang atau dipres hingga sangat renyah. Ada pula hibrida baru yang menggabungkan croissant dengan sensasi mochi, mempertemukan lapisan renyah dengan karakter kenyal yang sangat disukai pasar Asia. Evolusi ini menunjukkan bahwa daya tarik croissant saat ini tidak hanya ada pada laminasi, tetapi juga pada kemampuannya menjadi dasar untuk tekstur baru.
Dalam ekosistem seperti ini, belowzero relevan sebagai nama yang dekat dengan kebutuhan pasar kafe Indonesia yang juga semakin tertarik pada croissant bukan hanya sebagai pastry klasik, tetapi sebagai dasar menu hybrid dan seasonal yang lebih menarik.
Fusion Rasa Lokal Menjadi Nilai Tambah
Korea juga kuat dalam satu hal lain: keberanian memasukkan rasa lokal ke teknik pastry Prancis. Berbagai contoh Korean-French crossover menunjukkan bagaimana bahan atau profil rasa lokal bisa dibawa ke produk bakery premium tanpa terasa dipaksakan. Di pasar Korea, kimchi croissant, hotteok-inspired croissant, dan berbagai pastry dengan sesame, jujube, atau elemen tradisional lain menunjukkan bahwa konsumen bersedia menerima rasa yang tidak biasa selama eksekusinya meyakinkan.
Logika yang sama sebenarnya sangat relevan untuk Indonesia. Jika bakery Korea bisa menggabungkan croissant dengan kimchi atau hotteok, maka pasar Indonesia juga punya ruang besar untuk memainkan rendang, ayam betutu, selai kaya, gula aren, atau bahkan profil martabak ke dalam format croissant. Kuncinya bukan sekadar memasukkan isian lokal, tetapi memastikan rasa tersebut benar-benar cocok dengan karakter butter dan struktur berlapis croissant.
Apa yang Bisa Diadaptasi di Indonesia
Indonesia punya modal besar untuk mengikuti arus inovasi ini. Konsumen lokal terkenal terbuka terhadap fusion food, terutama jika produk tersebut terasa akrab di satu sisi, tetapi tetap memberi kesan baru. Croissant rendang, misalnya, punya logika yang kuat karena rendang menawarkan kedalaman rempah, sedikit pedas, dan serat daging yang bisa memberi kontras terhadap rongga honeycomb croissant. Begitu juga dengan croissant ayam betutu yang berpotensi menarik lewat aroma rempah Bali yang kuat.
Varian yang lebih ringan juga punya peluang, seperti croissant martabak manis dengan profil cokelat-kacang-keju, atau croissant selai kaya dan butter yang terasa dekat dengan budaya kopitiam. Semua ini menunjukkan bahwa adaptasi lokal tidak harus selalu ekstrem. Kadang justru versi yang paling berhasil adalah yang terasa familiar, tetapi diberi bentuk dan kualitas pastry yang lebih premium.
Untuk pasar kafe, strategi terbaik biasanya bukan langsung meluncurkan terlalu banyak rasa eksperimental. Lebih aman memulai dengan satu varian “aman”, satu varian “viral”, dan satu varian “lokal”. Model ini memberi ruang untuk mengukur respons pasar sambil menjaga operasional tetap terkendali. Di sinilah peran supplier juga penting, terutama untuk outlet yang ingin menguji pasar tanpa membebani dapur dengan proses laminasi dari nol.
Teknik Dasar Tetap Penentu
Walau tren terlihat sangat kreatif, semua inovasi croissant tetap kembali ke teknik dasar. Konsumen di media sosial mungkin tertarik pada bentuk unik atau isian lokal, tetapi penilaian akhir hampir selalu jatuh pada tekstur. Croissant yang baik tetap harus punya lapisan luar yang renyah, aroma butter yang jelas, dan bagian dalam yang lembut dengan struktur honeycomb yang rapi. Ketika elemen dasar ini gagal, inovasi rasa biasanya tidak cukup untuk menyelamatkan pengalaman makan.
Karena itu, tantangan utama para baker tetap sama: kontrol suhu, kualitas butter, ketepatan fermentasi, dan konsistensi laminasi. Inovasi yang baik bukan yang paling aneh, tetapi yang mampu menjaga integritas dasar croissant sambil memberi pengalaman baru. Banyak produk viral cepat hilang justru karena terlalu fokus pada visual dan melupakan fondasi teknik.
Pelajaran untuk Bakery dan Kafe
Tren Korea memberi satu pelajaran besar: croissant masih sangat relevan, tetapi cara menjualnya harus terus diperbarui. Konsumen tidak lagi hanya membeli pastry; mereka membeli cerita, tekstur, visual, dan rasa yang terasa layak dibagikan. Karena itu, bakery dan kafe di Indonesia bisa mengambil inspirasi dari Korea dengan tetap menyesuaikan pada lidah lokal, kemampuan operasional, dan kebutuhan display di outlet.
Below Zero dapat menjadi supplier croissant untuk kebutuhan HoReCa dan retail wholesale, dengan pendekatan produk bakery yang praktis untuk operasional kafe serta tetap mendukung konsistensi kualitas di banyak titik penjualan.
Pada akhirnya, evolusi croissant di Korea awal 2026 membuktikan bahwa pastry klasik tidak pernah benar-benar tua. Selama ada keberanian untuk bereksperimen dan disiplin menjaga teknik dasar, croissant bisa terus berubah mengikuti selera zaman. Bagi pasar Indonesia, peluangnya sangat terbuka: mengadopsi semangat inovasi Korea, lalu menerjemahkannya ke dalam rasa dan pengalaman yang terasa dekat dengan konsumen lokal.

