Dubai Chewy Salt Bread: Asal-usul, Isi “Dubai”, dan Kenapa Teksturnya Bikin Penasaran

Dubai Chewy Salt Bread
Dubai Chewy Salt Bread: Asal-usul, Isi “Dubai”, dan Kenapa Teksturnya Bikin Penasaran

Salt bread versi “Dubai chewy” sedang ramai dibahas karena rasanya terasa “tabrakan yang enak”: asin-buttery, manis-kacang, dan kenyal di luar.

Tren ini sering terlihat sebagai roti ukuran besar yang dipotong, lalu terlihat lapisan-lapisannya. Di konten video, fokusnya bukan cuma rasa, tetapi juga bunyi dan tekstur saat digigit. Dan yang perlu diluruskan sejak awal: nama “Dubai” di sini biasanya bukan menunjuk roti khas Dubai. “Dubai” lebih merujuk ke gaya isian pistachio-kataifi yang populer di dunia dessert, mirip nuansa kunafa.



Baca juga trend salt bread lainnya

Inovasi Terbaru Salt Bread di Indonesia Sepanjang 2025 s/d Awal 2026: Varian Rasa, Tekstur, dan Visual, Termasuk Dubai Chewy Salt Bread

Siapa Influencer Yang Mendorong Trend Salt Bread Sepanjang Tahun 2025 di Tiktok


Di artikel ini, Belowzero membahas asal-usul istilahnya, definisinya, sampai cara memahami komponen penyusunnya. Tujuannya sederhana: membantu Anda mengerti apa yang sebenarnya dimaksud “Dubai Chewy Salt Bread”, supaya tidak salah ekspektasi saat mencicipi atau mengembangkan menu.

Asal-usul tren “Dubai Chewy Salt Bread”

Basisnya berangkat dari salt bread ala Jepang/Korea yang sudah lebih dulu viral. Di Jepang, roti ini dikenal sebagai shio pan (roti butter dengan garam). Di Korea, sering disebut sogeum-ppang, yang intinya juga roti butter asin dengan sensasi bagian bawah yang lebih “crunchy” karena butter meleleh saat dipanggang.

Lalu muncul variasi modern: roti asin ini diisi “Dubai filling” dan dibungkus lapisan luar yang kenyal (chewy). Di media sosial, formatnya jelas: dessert besar, potongan memperlihatkan lapisan, dan ada kontras tekstur yang kuat. Karena “Dubai filling” punya citra rasa Timur Tengah (pistachio dan kataifi yang identik dengan dessert seperti kunafa), kata “Dubai” terasa catchy dan mudah menempel di ingatan.

@bettyaugustina DUBAI CHEWY SALTBREAD.! Order di @smulbits ⭐️ #DubaiChewySaltbread #KulinerBandung #SerunyaRamadan #SerunyaKuliner #DubaiChewyCookie ♬ suara asli – Betty Augustina

Dubai Chewy Salt Bread itu apa?

Dubai Chewy Salt Bread bisa dipahami sebagai dessert hybrid yang berangkat dari salt bread, lalu diberi dua elemen tambahan: isian “Dubai” dan lapisan chewy yang membungkus roti.

1) Basisnya: salt bread (shio pan / sogeum-ppang)

Salt bread adalah roti butter asin dengan bentuk mirip “croissant mini”, tetapi karakter adonannya cenderung roti lembut (bukan laminasi kering seperti croissant). Bagian atas biasanya ditaburi garam kristal, dan bagian bawahnya bisa lebih garing karena butter di dalam roti meleleh lalu “menggoreng” bagian bawah saat dipanggang.

2) Komponen “Dubai”: pistachio + kataifi

Yang membuatnya disebut “Dubai” adalah isian bergaya dessert Timur Tengah. Biasanya berupa pistachio spread/cream yang dicampur kataifi (atau kadayif), yaitu pastry tipis seperti “benang” yang ketika dipanggang bisa menjadi renyah dan wangi. Kataifi sendiri sering dipakai sebagai bagian dari dessert seperti knafeh/kunafa.

3) Lapisan luar yang chewy

Elemen terakhir adalah “chewy layer” yang membungkus roti. Di beberapa versi, lapisan ini terasa seperti marshmallow yang diolah menjadi coating; di versi lain, rasanya mendekati chewy cookie layer yang manis dan sedikit “lengket” saat hangat. Hasil akhirnya: roti tetap punya pinggir garing, tetapi ada sensasi kenyal-manis di luar.

Istilah yang perlu dipahami (biar tidak bingung)

Salt bread / shio pan / sogeum-ppang

Ini satu keluarga konsep: roti butter asin dengan topping garam. Nama berbeda karena konteks negara dan budaya bakery, tetapi intinya sama: adonan roti, butter di dalam, garam di atas.

Kataifi / kadaif

Kataifi adalah pastry berbentuk serabut/benang halus. Teksturnya bisa jadi sangat renyah bila dipanggang dengan butter. Dalam “Dubai filling”, kataifi sering dipotong pendek, dipanggang/di-roast, lalu dicampur dengan pistachio cream agar ada efek crunchy.

“Dubai filling”

Ini bukan satu produk pabrikan tunggal. “Dubai filling” lebih tepat dibaca sebagai konsep rasa: pistachio yang creamy + kataifi yang crunchy, kadang ditemani cokelat. Jadi di tiap toko, formulanya bisa berbeda, tetapi polanya mirip.

Karakter tekstur dan rasa yang dicari

Daya tarik utama dessert ini ada pada “tiga lapis sensasi” dalam satu gigitan. Banyak orang menyukainya karena terasa padat, berlapis, dan memuaskan untuk porsi sharing.

  • Roti: luar agak garing, dalam lembut dan buttery.
  • Filling: creamy dari pistachio, lalu muncul crunchy dari kataifi.
  • Coating: manis-kenyal, memberi kontras dengan garam dan butter.

Kalau dibaca dari rasa, ini permainan “sweet-salty-buttery”. Garam di permukaan roti membantu menahan rasa manis agar tidak terasa enek, lalu pistachio memberi rasa kacang yang kaya.

Bedanya dengan salt bread biasa dan croissant

Versus salt bread klasik

Salt bread klasik fokus pada kesederhanaan: roti + butter + garam. Dubai chewy salt bread menambah dua lapisan ekstra (filling dan coating), sehingga arahnya lebih dekat ke dessert modern yang “ramai” tekstur.

Versus croissant

Croissant mengandalkan laminasi, lapisan kering-flaky, dan aroma butter dari lipatan adonan. Dubai chewy salt bread lebih terasa seperti roti enriched ala shio pan, lalu “dibesarkan” karakternya dengan isian kataifi-pistachio dan balutan chewy, sehingga mouthfeel-nya lebih kenyal dan berat.

Struktur dasar komponen (bukan langkah resep)

Untuk memahami produknya, bayangkan ada tiga blok yang disusun.

1) Adonan roti asin

Biasanya memakai bread flour, susu, air, ragi, gula, garam, dan butter. Beberapa varian menambahkan cocoa powder atau chocolate chips untuk versi cokelat.

2) Dubai filling

Intinya roasted kataifi + butter + pistachio spread/cream. Di beberapa variasi, ada tambahan cokelat untuk memberi kesan “Dubai chocolate”.

3) Chewy layer

Sering dibuat dari marshmallow yang dilelehkan lalu dicampur butter dan bahan lain seperti cocoa dan susu bubuk, atau versi adonan chewy cookie. Setelah itu, coating dibentuk tipis dan membungkus roti.

Kenapa tren ini cepat viral

Tren ini punya “paket lengkap” untuk konten. Visualnya kuat saat dipotong, teksturnya jelas saat digigit, dan istilah “Dubai” memberi kesan eksotis yang mudah dijual sebagai cerita menu.

  • Visual: lapisan terlihat jelas; roti, isian, dan coating tampak kontras.
  • Tekstur: crispy + crunchy + chewy dalam satu produk, cocok untuk konten makan/ASMR.
  • Asosiasi rasa: pistachio dan kataifi membawa ingatan ke dessert Timur Tengah seperti kunafa.

Pengalaman Belowzero dengan salt bread dan kebutuhan kafe

Belowzero sudah lama bergerak di dunia baked goods di Indonesia, dan berfokus melayani kebutuhan B2B. Dalam perjalanan itu, kami sering melihat pola yang sama di banyak coffee shop dan retail chain: pelanggan menyukai menu yang simpel dimengerti, tetapi punya “twist” yang terasa baru. Salt bread termasuk yang mudah diterima karena rasanya tidak asing—ada butter dan garam—namun tetap terasa spesial saat teksturnya tepat.

Di sisi operasional, banyak mitra butuh produk yang praktis dipakai. Karena itu, Belowzero juga terbiasa menata proses produksi dengan kontrol kualitas yang ketat, menjaga konsistensi dari batch ke batch, dan menyesuaikan kebutuhan klien melalui diskusi preferensi produk. Dalam konteks tren seperti Dubai chewy salt bread, cara berpikirnya tetap sama: memahami komponen yang membuat orang penasaran (kontras tekstur, rasa pistachio-kataifi, dan sensasi butter-garam), lalu memastikan pengalaman makan itu stabil saat disajikan.

Untuk referensi ragam rasa salt bread yang ada di Belowzero, silakan lihat halaman ini: https://belowzero.co.id/supplier-salt-bread/.

Variasi rasa yang sering muncul

Di luar versi pistachio klasik, variasi biasanya bermain di dua area: cokelat dan topping.

  • Versi cokelat penuh: roti cokelat + Dubai chocolate filling + cocoa chewy layer.
  • Campuran kacang: pistachio dipadukan dengan hazelnut/chocolate spread.
  • Topping: dusting cocoa, kacang cincang, atau drizzle cokelat.

Di beberapa konten, konsep “Dubai chewy” juga muncul pada produk lain (misalnya cookie), tetapi polanya tetap sama: filling pistachio-kataifi dan permainan tekstur.

Penutup

Dubai Chewy Salt Bread pada dasarnya adalah salt bread yang “naik kelas” menjadi dessert berlapis. Kunci ceritanya ada pada tiga hal: roti butter asin, isian pistachio-kataifi yang crunchy, dan balutan luar yang chewy.

Jika Anda melihat kata “Dubai” pada menu, anggap itu sebagai petunjuk rasa (pistachio + kataifi) dan sensasi dessert Timur Tengah, bukan asal roti dari kota Dubai. Dan bila tren ini ingin diadaptasi, yang paling penting biasanya bukan sekadar manisnya, tetapi keseimbangan rasa asin-buttery dan kontras tekstur yang konsisten.

Referensi istilah dan konteks : Little Bbang House: Salt Bread (Japanese Shio Pan), Not Quite Nigella: Salt Bread Shio Pan / Sogeum-ppang, Maureen Abood: Kataifi (shredded phyllo pastry).

2 tanggapan untuk “Dubai Chewy Salt Bread: Asal-usul, Isi “Dubai”, dan Kenapa Teksturnya Bikin Penasaran”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *