Dirty latte sedang berada di puncak perhatian para pecinta kopi. Dari video pendek di media sosial sampai diskusi di kolom komentar, minuman ini memicu banyak perdebatan soal cara minum yang “benar”, tampilan yang ideal, sampai seberapa tebal karakter susunya. Bagi pelaku usaha kafe maupun penikmat home cafe, memahami tren ini bisa membantu meracik pengalaman minum yang lebih seru dan relevan.
Baca juga
Sensasi Suhu Dirty Latte: Perpaduan Susu Dingin dan Espresso Panas dalam Satu Gelas
Mengenal Trend Baru White Americano
1. Debat Cara Minum: Diaduk vs Langsung Seruput
Topik paling panas seputar dirty latte adalah cara menikmatinya. Banyak konten kreator dan barista menekankan satu “aturan saklek”: dirty latte sebaiknya tidak diaduk. Ide dasarnya adalah agar peminum bisa merasakan kontras suhu dan rasa dalam satu seruput besar.
Di bagian bawah, susu disajikan dalam keadaan sangat dingin dan lembut. Di atasnya, espresso panas atau hangat dituangkan perlahan sehingga menciptakan lapisan gelap yang kontras. Ketika diminum tanpa diaduk, Anda akan merasakan perjalanan rasa dari pahit dan pekat, lalu bergeser menjadi creamy dan manis saat susu mulai menyatu di mulut.
“Dirty latte kata dia tidak boleh diaduk

Netizen yang baru tahu “aturan” ini sering mengaku menyesal karena di percobaan pertama langsung mengaduk semua lapisan. Banyak yang kemudian kembali membeli dirty latte hanya untuk mencoba sensasi seruput pertama tanpa adukan, demi merasakan transisi suhu dan rasa yang menjadi ciri khas minuman ini.
2. Tren Dirty Latte + Mont Blanc = “Dirty Blanc” dan Variasi Rasa
Seiring meningkatnya popularitas dirty latte, muncul variasi baru yang menggabungkan teknik dasar minuman ini dengan elemen lain. Salah satu yang banyak dibicarakan adalah “Dirty Blanc”. Menu ini terinspirasi dari dessert mont blanc, memadukan dirty latte dengan lapisan krim tebal di atas susu dingin.

Beberapa kreasi Dirty Blanc bahkan menambahkan sentuhan buah seperti orange zest atau sitrus halus di bagian atas krim. Hasilnya adalah minuman kopi yang tetap bold tetapi punya aroma segar dan sedikit rasa fruity. Kontras antara espresso, krim, dan sitrus membuat profil rasanya terasa lebih kompleks.
Selain itu, muncul juga konsep “Dirty Matcha”. Di sini, basisnya bukan espresso, melainkan matcha yang sangat dingin. Susu di bagian bawah dibuat begitu dingin hingga teksturnya mendekati es krim lembut. Ketika matcha pekat dituangkan di atasnya, minuman ini terasa seperti perpaduan antara latte, float, dan dessert beku.
3. Inovasi Gelas Beku (Frozen Glass)
Untuk mempertahankan konsep susu super dingin, beberapa gerai kopi mulai mempopulerkan penggunaan gelas beku. Mereka menyiapkan chiller atau freezer khusus untuk mendinginkan gelas hingga suhu sangat rendah sebelum digunakan.

Ide utamanya adalah membuat susu tetap dingin tanpa bantuan es batu. Tanpa es, konsentrasi rasa kopi dan susu tidak akan “tercerahkan” saat es mencair. Di saat yang sama, dinding gelas yang beku membantu susu perlahan menjadi lebih kental, mendekati tekstur dessert. Bagi pelanggan, pengalaman minum dirty latte pun terasa seperti menikmati perpaduan minuman dan pencuci mulut dalam satu wadah.

4. Kontroversi Visual dan Rasa Dirty Latte
Selain rasa dan cara minum, tampilan dirty latte juga memicu banyak perdebatan. Sebagian penikmat kopi berpendapat bahwa dirty latte “ideal” harus menampilkan layer espresso yang jelas mengambang di atas susu. Layering ini dianggap sebagai tanda bahwa susu cukup dingin dan espresso dituangkan dengan teknik yang tepat.

Di sisi lain, ada yang menganggap tidak masalah jika espresso dan susu langsung nge-blend secara alami, selama rasa dan sensasi suhu masih sesuai. Bagi kelompok ini, dirty latte tidak harus selalu tampil “rapi” di foto. Perdebatan makin ramai ketika masuk ke isu klasik: apakah penggunaan susu dan krim yang sangat banyak membuat karakter kopi hilang, atau justru membuat kopi lebih mudah dinikmati oleh orang yang belum terbiasa dengan rasa espresso yang tajam.
Di Mana Peran Dirty Latte untuk Kafe?
Bagi pemilik kafe, dirty latte dan turunannya seperti Dirty Blanc atau Dirty Matcha bisa menjadi menu unggulan yang memancing rasa penasaran. Minuman ini cocok dipasangkan dengan pastry bertekstur ringan, misalnya croissant, donut, atau puff pastry manis, sehingga pelanggan mendapatkan pengalaman minum dan makan yang seimbang.
Untuk kebutuhan pastry pendamping kopi, Below Zero dapat menjadi partner pasokan yang terpercaya. Perusahaan ini berperan sebagai cake bakery wholesaler yang menyediakan fresh dan frozen baked goods seperti croissants, donut, puff pastry, sandwich, dan cakes untuk berbagai jaringan kafe dan retail.

