Di awal 2026, salt bread atau shio pan resmi naik kelas dari roti mentega asin sederhana menjadi kanvas kreatif bagi banyak bakery. Bentuknya masih mirip croissant mini yang digulung rapi, tetapi isi dan topping-nya kini jauh lebih berani. Di media sosial, roti ini sering muncul sebagai “roti lembut tapi chewy” dengan lelehan isian gurih maupun manis yang melimpah.
Baca juga
Fakta tentang dubai chewy cookies
Cari supplier bakery ? cek ini dulu
1. Inovasi Rasa dan Isian: Dari Truffle sampai Kopi Kurma
Salah satu pendorong utama popularitas salt bread adalah eksplorasi rasa yang agresif. Bagian rongga dalam roti yang awalnya hanya diisi mentega asin, kini diisi berbagai kombinasi premium dan lokal.
Di segmen mewah, beberapa toko menghadirkan varian dengan truffle, pistachio cream, hingga saus pedas creamy seperti rose bulldog. Rasa asin gurih khas salt bread berpadu dengan aroma truffle dan kacang premium sehingga terasa seperti roti restoran fine dining, tetapi tetap dalam format grab and go.
Dari sisi sentuhan lokal, muncul varian salted egg, thai tea, dan kombinasi kopi–kurma (coffee & date) yang memanfaatkan selera konsumen Asia terhadap rasa umami, karamel, dan teh susu. Untuk menambah dimensi tekstur, banyak bakery juga menyisipkan mochi atau nian gao ke dalam roti, sehingga bagian dalamnya terasa chewy dan sedikit “stretchy” ketika disobek.
Varian manis pun tidak mau kalah. Kombinasi cranberry cheese, choco cheese, hingga banana pudding mulai menyaingi rasa gurih sebagai pilihan favorit pelanggan yang mencari comfort food manis dengan hint asin di bagian kulitnya.
2. Adonan, Fermentasi, dan Visual yang Lebih Berani
Perubahan tidak hanya terjadi pada isian. Adonan salt bread juga ikut berevolusi. Banyak baker yang mulai bereksperimen menggunakan sourdough starter untuk menggantikan ragi instan sepenuhnya atau sebagian. Hasilnya adalah roti dengan kulit luar yang lebih crunchy, aroma fermentasi yang lebih kompleks, dan crumb yang kenyal namun tetap empuk.
Dari sisi visual, warna roti juga tidak lagi terbatas pada kuning kecokelatan klasik. Beberapa toko mengembangkan varian charcoal hitam untuk salted egg, atau menambahkan warna biru dan ungu lembut pada varian manis tertentu. Warna-warna ini memang tidak mengubah rasa secara signifikan, tetapi membuat produk lebih fotogenik dan mudah dikenali di feed media sosial.
Seiring meningkatnya kesadaran diet, mulai muncul juga vegan salt bread yang memakai margarin nabati dan susu plant-based, atau bahkan formulasi tanpa produk hewani sama sekali. Targetnya adalah konsumen yang ingin menikmati tren shio pan tanpa merasa bersalah terhadap pilihan gaya hidup mereka.
3. Topping Kreatif: Dari Abon hingga Pistachio Konafa
Bagian luar salt bread yang sebelumnya hanya diberi taburan garam kasar kini menjadi area bermain baru untuk topping. Varian gurih populer misalnya penambahan beef floss (abon sapi), garlic mozzarella, hingga lapisan keju yang meleleh dan dipanggang sampai golden brown.
Untuk varian manis, beberapa bakery mengadaptasi inspirasi dessert Timur Tengah dan cokelat Dubai yang viral. Topping pistachio konafa, gula kayu manis ala churros, dan crumble renyah mulai sering terlihat menghiasi permukaan salt bread. Selain menambah tekstur, topping ini juga memberikan aroma khas yang langsung tercium ketika roti dipanaskan.
4. Lonjakan Pencarian “Salt Bread” di Awal 2026
Dari sisi data, istilah “salt bread” menunjukkan kenaikan minat yang sangat signifikan dalam periode Maret 2025 sampai Februari 2026. Rata-rata pencarian bulanannya sudah mencapai sekitar 14.800, dengan pertumbuhan year-on-year sekitar 653 persen dibanding periode sebelumnya. Jika dilihat per bulan, pencarian naik dari sekitar 4.400 pada Maret 2025 menjadi 33.100 pada Desember 2025 sebelum sedikit turun ke 27.100 pada Februari 2026. Lonjakan yang konsisten ini menandakan bahwa salt bread bukan lagi tren lokal sementara, tetapi telah menjadi kategori roti yang serius dicari konsumen dan berpotensi bertahan sebagai menu tetap di banyak bakery dan kafe.

5. Peluang untuk Kafe dan Home Baker
Bagi pelaku usaha kafe, salt bread menawarkan format produk yang fleksibel. Roti ini bisa dijual sebagai snack individual, paket sarapan bersama kopi, atau dijadikan seasonal flavor dengan isian yang menyesuaikan tren — misalnya varian kopi kurma saat Ramadan atau thai tea saat musim panas. Karena ukurannya relatif kecil, pelanggan cenderung membeli lebih dari satu rasa dalam satu kali transaksi.
Untuk kafe yang ingin fokus di minuman tetapi tetap punya line pastry yang konsisten, kemitraan dengan produsen bakery B2B menjadi pilihan strategis. Below Zero, misalnya, dikenal sebagai cake bakery wholesaler yang memasok fresh dan frozen baked goods seperti croissants, donut, puff pastry, sandwich, dan cakes untuk berbagai jaringan kafe dan retail. Dengan produk yang sudah siap panggang atau siap panaskan, tim barista bisa fokus meracik minuman sementara kualitas pastry tetap terjaga di semua outlet.
Dari sisi pengembangan menu, pengalaman Below Zero menangani kebutuhan coffee shop dan retail chain di berbagai kota membuat perusahaan ini peka terhadap tren rasa seperti salt bread berisi mochi, saus keju, atau cream premium. Hal ini memudahkan kafe yang ingin menguji varian baru tanpa harus membangun dapur produksi roti sendiri.
Pada akhirnya, tren salt bread awal 2026 menunjukkan bagaimana satu produk sederhana bisa berkembang menjadi portofolio rasa yang sangat luas. Inovasi pada isian, adonan, dan topping membuka ruang eksplorasi bagi bakery besar maupun home baker. Dengan dukungan data pencarian yang terus menanjak, ini saat yang tepat untuk mempertimbangkan shio pan sebagai bintang baru di etalase roti dan menu kafe Anda.

