Sembilan Tren Donat yang Membentuk 2026: Dari Loaded Kit sampai Mini Indulgence

Disarikan dan dikembangkan dari laporan BakeryAndSnacks, “Nine doughnut trends shaping 2026: From loaded kits to mini indulgence” (Gill Hyslop, 18 Mei 2026), dengan tambahan konteks asal negara tiap tren dan analisis peluangnya di Indonesia.

Bayangkan sebuah rak donat di tahun 2026. Isinya tidak lagi hanya donat gula, donat cokelat, atau donat isi krim. Di sana ada donat amal edisi terbatas, donat mini untuk berbagi, DIY doughnut kit, donat rasa nostalgia, hingga mashup gurih-manis yang sengaja dibuat untuk memancing rasa penasaran di media sosial.

Baca juga :

Tren Dubai‑Style Donut di Korea: Profil Rasa, Komentar Warganet, dan Pelajaran untuk Kafe Indonesia

Strategi Promosi Donat “Limited Edition”: Mengapa Kita Rela Antre demi Donat Rilisan Terbatas?

Donat sedang bergerak dari sekadar camilan manis menjadi produk yang lebih kompleks: ada cerita, pengalaman, momen perayaan, visual, bahkan nilai sosial di baliknya.

Bagi bisnis F&B di Indonesia, tren ini penting dibaca. Bukan berarti semua tren global harus ditiru mentah-mentah, tetapi ada pola yang bisa dipelajari: konsumen makin tertarik pada produk yang praktis, menarik secara visual, mudah dibagikan, dan punya alasan kuat untuk dibeli. Dalam konteks B2B, Belowzero sebagai supplier donat dan berbagai pastry lain dapat menjadi partner yang relevan bagi pelaku usaha yang ingin menghadirkan produk bakery secara lebih konsisten dan siap jual.

Mengapa Tren Donat 2026 Penting untuk Bisnis F&B?

Donat tidak lagi sekadar camilan yang dibeli sambil lewat. Sepanjang 2026, kategori ini ditarik ke arah baru oleh dessert hibrida, inovasi viral asal Asia, konsep ritel yang teatrikal, dan peluncuran musiman yang menjual emosi.

Yang mendorong inovasi pun bukan hanya rasa indulgent, tetapi juga kepraktisan, storytelling, dekorasi yang Instagrammable, dan pengalaman membuat atau menikmati produk itu sendiri.

Menariknya, peta asal tren ini cukup jelas. Inggris dan Amerika Serikat mendominasi sisi pemasaran, kampanye amal, budaya perayaan, dan format retail. Sementara Asia, khususnya Jepang dan Thailand, menjadi ruang eksperimen untuk rasa, bentuk, dan format produk yang lebih berani.

Berikut sembilan tren donat yang membentuk 2026, dari mana asalnya, dan seberapa realistis diterapkan di pasar Indonesia.

1. Donat Amal atau Charity Doughnuts — Inggris

Memberi kembali kini sama pentingnya dengan rasa indulgent.

Untuk National Doughnut Week 2026, Birds Bakery di kawasan Midlands, Inggris, merilis Raspberry Cheesecake Doughnut edisi terbatas seharga £2, dengan menyumbangkan 20p dari setiap donat terjual ke sebuah yayasan anak. Sejak 2016, mereka mengklaim sudah mengumpulkan puluhan ribu pound. Ini menunjukkan bahwa peluncuran musiman makin sering digunakan untuk membangun keterlibatan komunitas, bukan hanya menggenjot penjualan.

Peluang di Indonesia

Konsep ini sangat bisa diterapkan, bahkan secara budaya cukup cocok. Tradisi sedekah, donasi keagamaan, dan kepedulian sosial sudah kuat di Indonesia.

Konsep “beli donat, sebagian untuk amal” mudah dikemas saat Ramadan, momen bencana, kampanye sekolah, atau dukungan untuk panti asuhan. Tantangannya adalah transparansi. Konsumen Indonesia makin kritis soal ke mana dana donasi benar-benar disalurkan, sehingga laporan terbuka menjadi kunci kepercayaan.

2. Loaded Dessert Mashup atau DIY Kit — Inggris

Hibridisasi dessert masih mendominasi.

Renshaw Baking memasukkan Belgian Chocolate Loaded Doughnut Kit ke gerai Tesco terpilih. Produk ini berupa kit untuk membuat sendiri donat ala toko dessert premium di rumah, berdampingan dengan kit cheesecake dan mousse. Sasarannya jelas: konsumen yang ingin baking praktis, tetapi tetap terasa mewah dan layak diunggah ke media sosial.

Peluang di Indonesia

Peluangnya ada, tetapi bersyarat. Tren baking rumahan pernah meledak saat pandemi, dan produk “tinggal aduk” atau “tinggal hias” punya pasar di kalangan urban, keluarga muda, dan konsumen yang suka aktivitas bersama anak.

Namun, budaya jajan di Indonesia masih jauh lebih kuat dibanding budaya membuat dessert sendiri di rumah. Karena itu, versi lokal dengan harga terjangkau lebih masuk akal daripada meniru kit cokelat Belgia secara langsung.

Contohnya, kit donat kentang, donat gula, donat meses, atau donat dengan topping khas lokal bisa lebih relevan untuk pasar Indonesia.

3. Celebration Baking atau Kue Perayaan — Amerika Serikat

Budaya perayaan tetap menjadi salah satu pendorong penjualan bakery terkuat.

Dawn Foods di Amerika Serikat melaporkan lonjakan penjualan saat musim wisuda, pernikahan, ulang tahun, dan liburan musim panas. Mereka kemudian meluncurkan panduan inspirasi dekorasi musiman lintas produk: kue, cupcake, donat, kukis, hingga brownies.

Data mereka menunjukkan bahwa penjualan cupcake melonjak menjelang musim wisuda, sementara brownies naik tajam menjelang hari kemerdekaan AS. Artinya, bakery semakin sering diposisikan sebagai bagian dari momen emosional, bukan hanya produk konsumsi harian.

Peluang di Indonesia

Tren ini sangat relevan. Indonesia punya banyak momen perayaan: Lebaran, Natal, Imlek, wisuda, ulang tahun, syukuran, hingga acara kantor.

Donat dekoratif dan hampers kue perayaan sudah menjadi peluang bisnis yang besar. Donat bertema musiman seperti warna pastel saat Lebaran, merah-emas saat Imlek, atau desain khusus untuk wisuda punya ruang tumbuh yang jelas, terutama melalui sistem pre-order online.

4. Rasa Nostalgia — Amerika Serikat

Nostalgia masih punya daya tarik besar, apalagi jika dikaitkan dengan rasa masa kecil.

Bisquick, merek milik General Mills di Amerika Serikat, merilis baking mix rasa Cinnamon Toast Crunch secara nasional. Strateginya adalah memanfaatkan kenangan masa kecil untuk menjembatani kategori sarapan dan dessert, sekaligus menarik konsumen muda lewat merek warisan yang sudah familiar.

Peluang di Indonesia

Tren ini bisa diterapkan, tetapi rasa nostalgianya harus diterjemahkan.

Cinnamon Toast Crunch bukan rasa kenangan bagi kebanyakan konsumen Indonesia. Padanan lokalnya justru lebih kuat: donat rasa pisang goreng, klepon, martabak manis cokelat-keju, es teler, pandan, gula merah, atau jajan pasar.

Donat rasa klepon dengan gula merah, kelapa, dan pandan adalah contoh bagus bagaimana tren nostalgia bisa dilokalkan. Produk seperti ini bukan hanya menjual rasa, tetapi juga memanggil memori.

5. Mini Indulgence atau Format Mini — Amerika Serikat

Format mini terus diminati karena menawarkan porsi terkontrol, mudah dibagikan, dan tampilan yang menggemaskan.

Krispy Kreme di Amerika Serikat memperluas lini mini donatnya dengan varian seperti Mini Strawberries and Crème serta Mini Heart of Gold. Format ini mengandalkan permintaan akan camilan kecil yang fotogenik, cocok untuk hadiah, dan mudah dibagikan.

Peluang di Indonesia

Ini salah satu tren yang paling mudah diterapkan di Indonesia.

Budaya jajan, berbagi camilan, dan membeli boks berisi banyak rasa sangat cocok dengan format mini. Donat mini bisa masuk ke berbagai kebutuhan: suguhan arisan, snack meeting, oleh-oleh kantor, hampers, acara anak, hingga menu kafe.

Kelebihan lainnya adalah fleksibilitas harga. Konsumen bisa mencoba banyak rasa dalam satu boks tanpa merasa terlalu berat secara porsi maupun biaya.

6. Experiential Baking atau Pengalaman Membuat — Inggris

Konsumen kini ingin mengalami proses, bukan hanya makan hasil akhirnya.

Warburtons, raksasa roti asal Inggris, meluncurkan kit edisi terbatas “Born to Bake?” bersama Living DNA. Kampanye ini menganalisis penanda genetik terkait sensitivitas rasa dan metabolisme untuk “menebak” bakat memanggang. Konsep ini dibuat sebagai bagian dari kampanye ulang tahun ke-150 dan menumpang tren pengalaman makanan yang personal dan interaktif.

Peluang di Indonesia

Versi mahal seperti kit DNA kemungkinan terlalu niche untuk pasar massal Indonesia. Namun, semangat “pengalaman membuat” sangat bisa diterapkan.

Contohnya adalah kelas dekorasi donat, aktivitas menghias donat untuk ulang tahun anak, workshop baking di kafe, atau konsep outlet dengan dapur terbuka. Untuk Indonesia, pendekatan yang murah, ramai-ramai, dan mudah dibagikan di media sosial akan lebih relevan daripada gimmick teknologi tinggi.

7. Teater dan Rasa Global — Inggris ke Thailand

Donat semakin menjadi produk imersif dan teatrikal seiring ekspansi merek lintas negara.

Bread Ahead dari Inggris membuka gerai Asia pertamanya di Bangkok, tepatnya di Siam Paragon, Thailand. Mereka membawa konsep “Hot Doughnut Theatre”, yaitu pelanggan dapat menonton donat dibuat, diisi, dan dihias langsung. Mereka juga menghadirkan rasa khusus untuk pasar Thailand seperti Matcha & White Chocolate serta Hojicha & Dark Chocolate.

Ini menunjukkan bagaimana brand global tidak hanya membawa produk, tetapi juga pengalaman menonton proses produksi.

Peluang di Indonesia

Konsep ini sangat menjanjikan. Konsumen Indonesia sudah familiar dengan konsep “lihat prosesnya langsung”, mulai dari martabak, bakpia premium, croffle, sampai dessert viral yang dibuat di depan pelanggan.

Dapur terbuka bisa memberi rasa percaya, rasa penasaran, dan konten visual. Rasa lokal seperti pandan, gula aren, durian, klepon, atau matcha juga bisa menjadi pembeda.

Mal besar di Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Bali adalah lokasi yang cocok untuk konsep teatrikal seperti ini.

8. Mashup Makanan Aneh atau Savory-Sweet — Jepang

Hibrida gurih-manis mendorong donat ke wilayah paling eksperimental, terutama di Asia.

Osaka Ohsho di Jepang memperkenalkan “Gyonuts”, yaitu donat dari kulit gyoza dan adonan croissant dengan rasa mulai dari Gyoza, Strawberry Milk, hingga Mapo Tofu. Ini melanjutkan tren Jepang setelah suksesnya “Udonuts”, donat berbahan tepung udon.

Produk seperti ini sengaja menantang ekspektasi tentang donat. Ia hidup dari kejutan, rasa penasaran, dan buzz media sosial.

Peluang di Indonesia

Tren ini bisa diterapkan sebagai produk edisi terbatas atau seasonal viral item, bukan menu utama.

Konsumen Indonesia menyukai makanan unik yang memancing rasa penasaran. Tren seperti cromboloni, croffle, dan berbagai mashup TikTok membuktikan bahwa pasar lokal cukup responsif terhadap format baru.

Donat gurih dengan isian rendang, abon, sambal, keju pedas, atau ayam suwir bisa menjadi gimmick viral musiman. Risikonya, produk seperti ini cepat naik dan cepat turun, sehingga lebih cocok untuk menjaga buzz daripada menjadi tulang punggung penjualan jangka panjang.

9. Budaya Perayaan yang Emosional — Amerika Serikat

Merek roti makin memposisikan diri sebagai merek gaya hidup yang emosional, bukan sekadar penjual dessert.

SusieCakes di Amerika Serikat merayakan 20 tahun dengan kampanye nasional yang mengajak pelanggan berbagi cerita dan foto momen: ulang tahun, pernikahan, perayaan keluarga, dan momen personal lainnya. Pemenang terpilih mendapat hadiah, tetapi inti kampanyenya adalah storytelling dan membangun komunitas di sekitar kenangan.

Peluang di Indonesia

Tren ini sangat cocok dengan kultur media sosial Indonesia yang aktif.

Kampanye user-generated content seperti “bagikan momen Lebaran bersama donat kami” atau “ceritakan ulang tahun paling berkesan” bisa menjadi cara murah dan organik untuk membangun kedekatan dengan konsumen.

Merek lokal yang pandai membangun cerita dan kedekatan emosional, bukan sekadar menjual produk, punya peluang membangun loyalitas jangka panjang.

Apa Artinya untuk Pelaku Bisnis Donat dan Bakery di Indonesia?

Dari sembilan tren ini, ada satu pola yang jelas: donat tidak hanya dijual sebagai produk, tetapi sebagai pengalaman.

Ada pengalaman berbagi, pengalaman membuat, pengalaman melihat proses, pengalaman merayakan momen, dan pengalaman mencoba sesuatu yang baru. Karena itu, bisnis donat dan bakery perlu memikirkan lebih dari sekadar rasa.

Produk harus punya bentuk yang menarik, varian yang relevan, kemasan yang layak dibagikan, serta sistem produksi yang bisa menjaga kualitas. Semakin banyak varian dan semakin besar skala bisnis, semakin penting pula dukungan produksi yang konsisten.

Di sinilah Belowzero relevan sebagai supplier donat dan pastry lain bagi kafe, bakery, hotel, restoran, reseller, dan bisnis F&B yang ingin menghadirkan produk bakery dengan standar yang lebih mudah dijaga. Untuk tren seperti donat mini, donat musiman, hampers, atau produk ready-to-serve, konsistensi ukuran, tekstur, rasa, dan ketersediaan stok menjadi faktor penting.

Ringkasan: Peta Asal dan Peluang di Indonesia

TrenAsalPeluang di Indonesia
Donat amalInggrisTinggi — selaras budaya donasi, dengan kunci transparansi
Loaded DIY kitInggrisSedang — perlu versi lokal dan harga terjangkau
Celebration bakingAmerika SerikatTinggi — banyak momen perayaan dan tren hampers
Rasa nostalgiaAmerika SerikatTinggi — jika dilokalkan ke rasa seperti klepon, pisang goreng, dan gula aren
Mini indulgenceAmerika SerikatSangat tinggi — cocok dengan budaya jajan dan berbagi
Experiential bakingInggrisSedang — versi kelas hias atau dapur terbuka lebih cocok
Teater dan rasa globalInggris ke ThailandTinggi — dapur terbuka dan rasa lokal punya potensi kuat
Mashup gurih-manisJepangSedang — kuat sebagai produk viral edisi terbatas
Perayaan emosionalAmerika SerikatTinggi — selaras dengan kultur media sosial Indonesia

Kesimpulan

Benang merah dari tren donat 2026 adalah kombinasi antara berbagi, perayaan, dan media sosial.

Tren yang paling mudah mendarat di Indonesia adalah tren yang menyentuh tiga hal tersebut. Donat mini cocok untuk berbagi. Donat musiman cocok untuk perayaan. Donat visual dan mashup rasa cocok untuk media sosial.

Sebaliknya, tren impor seperti DIY kit premium atau gimmick teknologi tinggi perlu disederhanakan dan dilokalkan agar relevan bagi konsumen Indonesia.

Kunci kemenangan bukan meniru tren global mentah-mentah, tetapi menerjemahkan ide besarnya ke dalam rasa, harga, format, dan momen yang akrab bagi pasar lokal.

Bagi bisnis F&B, peluangnya besar. Namun, semakin cepat tren bergerak, semakin penting sistem produksi yang stabil. Dengan dukungan Belowzero sebagai supplier donat dan berbagai pastry lain, pelaku usaha dapat lebih mudah menghadirkan produk bakery yang praktis, konsisten, dan siap mengikuti kebutuhan pasar yang terus berubah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *