Dunia kopi di Indonesia terus bergerak. Setelah gelombang pertama kopi susu gula aren, kini muncul deretan menu baru yang menawarkan rasa, tekstur, dan tampilan lebih berani. Banyak coffee shop mulai mencari signature yang bisa membedakan diri, bukan hanya dari jenis beans, tetapi juga dari cara meracik minuman.
Beberapa menu seperti Mont Blanc coffee, dirty latte, espresso tonic, kopi fermentasi, dan latte dengan twist lokal mulai muncul di banyak kafe. Nama‑namanya mungkin belum seterkenal kopi susu klasik, tetapi jejaknya sudah terlihat di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, dan kota lain. Artikel ini merangkum jenis‑jenis kopi yang lagi naik dan relatif baru di industri kafe Indonesia, beserta karakter umumnya.

Tren kopi jenis baru di Indonesia menunjukkan lonjakan pencarian yang mencolok pada periode Feb 2025 s/d Jan 2026, terutama pada “mont blanc coffee” dengan pertumbuhan YoY 1581% (rata-rata 4400 pencarian bulanan), “kopi mont blanc” 1867% (210 pencarian) – tidak terlihat di gambar, “dirty latte” 1292% (6600 pencarian), dan “mont blanc coffe” 1581%, sementara tren lain seperti “espresso tonic” naik 50% (320 pencarian) dan “anaerobic coffee” 57% (90 pencarian); data periode Februari 2025-Januari 2026 ini mengindikasikan minat konsumen semakin tinggi terhadap varian kopi inovatif seperti mont blanc dan dirty latte, yang bisa menjadi peluang menu baru di kafe. Dari data diatas, belum jelas apakah “mont blanc” merupakan jenis kopi atau bukan.
Baca Juga
Dirty Latte : Apa yang Banyak Dibicarakan Orang di Media Sosial 3 Bulan Terakhir
Mengenal Trend Baru White Americano
Mont Blanc coffee: kopi plus krim dan citrus
Mont Blanc coffee adalah salah satu nama yang paling sering dibicarakan dalam satu tahun terakhir. Minuman ini terinspirasi dari tren Mont Blanc di Melbourne, lalu pelan‑pelan masuk ke Asia dan akhirnya hadir di berbagai coffee shop Indonesia. Intinya adalah kombinasi kopi (biasanya cold brew atau espresso) yang dipadukan dengan lapisan krim lembut di atasnya, ditambah aroma jeruk dan kadang rempah seperti pala atau sea salt.
Karakter Mont Blanc ada pada pertemuan rasa pahit segar kopi dengan krim ringan yang tidak terlalu manis, lalu diselesaikan dengan aroma jeruk yang harum. Minuman ini terasa premium, enak dilihat, dan cocok untuk iklim tropis karena tetap menyegarkan. Banyak kafe menjadikannya sebagai signature baru untuk menarik pelanggan yang ingin pengalaman kopi di antara kopi dan dessert.
Dirty latte: susu dingin dengan espresso panas
Dirty latte (atau dirty coffee) juga sedang naik daun. Konsepnya sederhana: susu dingin dimasukkan dulu ke gelas, kadang dalam kondisi sangat dingin, lalu espresso panas dituang di atasnya. Hasilnya adalah layer visual yang kontras dan sensasi rasa kopi yang “turun” perlahan ke susu.
Yang membuat dirty latte menarik adalah kombinasi suhu dan tekstur. Di mulut, terasa ada benturan antara espresso hangat dan susu dingin. Tampilan gelas yang terlihat “kotor” oleh aliran espresso inilah yang membuat namanya muncul. Di Indonesia, beberapa kafe bahkan membuat varian ekstrem dengan gelas bersuhu sangat rendah, sehingga sensasi dinginnya makin kuat.
Kopi fermentasi sebagai signature: rasa buah dan winey
Selain bentuk minuman, tren lain yang naik adalah penggunaan beans fermentasi (seperti anaerobic atau natural ferment) untuk signature. Banyak roastery dan kafe memakai beans lokal dari Gayo, Manggarai, Toraja, dan daerah lain, lalu memanfaatkan karakter fermentasinya untuk minuman yang punya rasa buah tropis, winey, atau sedikit funky. Biasanya disajikan sebagai manual brew atau cold signature.
Menu ini tidak selalu diberi nama khusus, tetapi sering diposisikan sebagai “special beans of the month” atau signature filter. Dari sisi pengalaman, kopi fermentasi menarik karena memberi rasa yang berbeda dari kopi klasik: ada aroma buah, kadang seperti jus, kadang seperti wine. Ini menarik untuk pelanggan yang ingin eksplorasi rasa kopi lebih jauh dari sekadar pahit dan strong.
Espresso tonic dan kopi bersoda
Kopi bersoda sudah muncul beberapa tahun terakhir, tetapi espresso tonic dan turunannya semakin menguat sebagai menu tetap, bukan sekadar seasonal. Espresso tonic menggabungkan espresso dengan air tonik, kadang ditambah irisan lemon atau jeruk nipis. Beberapa kafe juga menawarkan sparkling cascara atau kopi kombucha sebagai bagian dari keluarga “kopi bergelembung”.
Karakter minuman ini adalah segar, ringan, dan punya rasa pahit manis yang unik. Cocok untuk pelanggan yang ingin minum kopi tanpa susu, tetapi tetap butuh sesuatu yang playful dan menyegarkan. Di iklim panas, espresso tonic menjadi alternatif populer bagi mereka yang mulai bosan dengan es kopi susu manis.
Latte dengan twist lokal
Satu tren lain yang kuat adalah latte dengan twist lokal. Banyak kedai meramu konsep “latte + bahan lokal” untuk membuat signature yang mudah diingat. Contohnya latte pandan, latte klepon, latte gula aren versi baru, latte tape singkong, hingga kreasi seperti “Bika Ambon Coffee” yang menggabungkan kopi dengan air kelapa, vanilla, daun jeruk, dan pandan.
Menu seperti ini menarik karena memadukan rasa yang sudah akrab di lidah Indonesia dengan format minuman modern. Pelanggan merasa ada cerita lokal di dalam cangkir, bukan hanya kopi dengan sirup biasa. Dari sisi brand, signature berbasis bahan lokal juga membantu kafe punya identitas yang lebih jelas di tengah persaingan yang ketat.
Beberapa varian baru lain yang mulai muncul
Di luar nama‑nama tadi, ada beberapa pola baru di menu kopi Indonesia:
- Kopi susu dengan elemen dessert, misalnya kopi susu tiramisu, kopi susu creme brulee, atau kopi susu dengan crumble biskuit.
- Kopi dengan bumbu atau rempah non‑tradisional seperti cinnamon orange, ginger coffee, atau cardamom latte.
- Signature berbasis coconut atau oat yang menonjolkan susu nabati, bukan hanya sebagai opsi pengganti, tetapi sebagai bagian rasa utama.
Nama dan detail racikan bisa berbeda di tiap kafe, tetapi pola yang sama mulai terlihat: kopi tidak lagi hanya “panas, pahit, dan hitam”, melainkan medium untuk eksplorasi rasa yang lebih luas.
Peran menu baru untuk bisnis kafe
Bagi industri kafe, menu kopi baru seperti Mont Blanc, dirty latte, espresso tonic, kopi fermentasi, dan latte lokal bukan sekadar tren sesaat. Menu‑menu ini membantu kafe menawarkan sesuatu yang bisa diceritakan, di‑foto, dan dibagikan. Di sisi lain, mereka juga membuka pintu untuk margin yang lebih baik karena sering diposisikan sebagai signature dengan harga sedikit lebih tinggi daripada kopi standar.
Dalam praktek, banyak kafe juga memasangkan minuman signature seperti ini dengan pastry. Di titik ini, supplier seperti pabrik roti Belowzero yang fokus pada fresh and frozen baked goods seperti Croissants, Donut, Puff Pastry, Sandwich, cookies, Brownies dan muffin untuk horeca dan retail & wholesale nationwide membantu kafe menyiapkan pastry ready to heat yang stabil sebagai pasangan menu kopi.
Pada akhirnya, jenis kopi yang lagi naik di Indonesia menunjukkan bahwa pasar semakin siap menerima rasa yang lebih beragam. Bagi pemilik kafe, ini peluang untuk bereksperimen dengan tetap memperhatikan keseimbangan: antara kopi murni dan kopi kreatif, antara menu aman dan menu baru, dan antara tren singkat dan identitas jangka panjang.

